Rabu

RabuT04.12

Ketika Malaikat Maut Datang Menjemput


La...ila...ha illallah...
Gema tahlil memenuhi seisi ruangan itu. Air mata setiap orang yang hadir, menetes dengan derasnya, seakan tak mau berhenti. Kehilangan sangat dirasa luka mendalam, dan perasaan jiwa yang tak lengkap, karena kepergiannya.

Hari ini, aku syok berat. Merasakan sosok yang kukenal sebagai orang yang suka tolong menolong, baik, dan terbaik pokoknya lah, tiba-tiba Allah cabut nyawanya, untuk memisahkan antara dunia yang sebelumnya, dengan dunia sesudah mati.

Namanya Kustini Rindawati. Akrab aku panggil dengan kata "bak Rinda". Orangnya sangat ramah kepada siapapun, serta tolong menolong tanpa pandang siapa yang ditolong. Mbak Rinda juga termasuk tetangga depan rumahku, yang sudah dianggap keluarga sendiri.

Kehadirannya dalam perbincangan bersama, membuat suasana semakin hidup. Apalagi, ibuku selalu dibantunya tanpa mengenal kata " lelah", untuk menemani ibu membeli baju-baju lebaran, hingga membantu mengantar ibu belanja.

Amal baiknya tidak sampai situ saja. Kesehariannya, disibukkan dengan membantu orang yang kesakitan di runah sakit, untuk mengurusi surat-surat, baik itu BPJS, dan surat-surat penting lainnya. Mbak Rinda dikenal sebagai seorang yang super aktif.

Beberapa hari yang lalu, mungkin kesehatannya menurun drastis, hingga koma, dan masuk ruangan ICU. Spontan berita ini sampai ke telingaku yang saat ini berada di Jember.

"Duh... Sakit apa mbak Rinda bu ?" Tanyaku via Telepon kepada Ibu.
"Kesehatannya ngedrop. Mungkin kecapean"

Jika melihat mbak Rinda berbaring saat itu, rasanya teringat pada kakekku, mbah Lan (Allahummaghfirlahu) yang wafat ± saat aku masih TK, namun ingatan itu melekat kuat di pikiranku.

Setelah percakapan itu, hati sudah terombang-ambing, dan penuh harapan agar kesehatan mbak Rinda bisa pulih kembali, dan ceria sebagaimana mestinya.

Namun, siapa sangka.23 Juni 2018, adalah hari terakhir mbak Rinda bersama kami. Aku mendapat kabar dari bapak, yang juga dapat kabar langsung dari ibu di Situbondo. Semua orang seakan tidak percaya. Mbak Rinda, yang selama ini selalu riang gembira, kini sudah dikafani, dan dikubur ?

Bukan hanya keluarga, dan tetangganya saja. Temannya tersebar dari setiap kalangan, yang turut mendoakan kepergian wanita yang satu ini.

Lulu, dan gina... (Anaknya), yang sabar, terus berbakti kepada ayahmu, dan jangan lupa doakan ibumu, kirim al fatihah, agar kuburannya bisa terang, dan dilapangkan, serta mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT.

Untuk teman-teman, mohon kiriman Al fatihahnya, dikhususkan untuk saudara kami, Almarhumah Kustini Rindawati. (Allahummaghfirlaha)


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar dengan baik ya, jangan lupa berkunjung lagi