Minggu

MingguT13.55

Elementary Journalism Class, Cara Fakultas Syariah IAIN Jember dalam Membentuk Karakter Jurnalistik

 

JEMBER – Saat ini, dunia semakin butuh kecakapan jurnalistik dalam setiap lini kehidupan. Karena, jurnalistik merupakan nilai tambah bagi seseorang di masa yang akan datang. Dengan melatih kemampuan jurnalistik, maka seseorang mampu menuliskan tentang keadaan yang terjadi, bahkan hingga dibaca oleh generasi setelahnya. 

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. M. Noor Harisudin dalam Elementary Journalism Class (EJC), yang menyatakan bahwa dengan menjadi jurnalis, seseorang bisa mendapatkan berbagai kemudahan, seperti adanya akses khusus dalam mewawancarai tokoh, dapat membuat buku-buku dan tulisan-tulisan yang keren. Selain itu, dengan menjadi jurnalis juga bisa mengantarkan seseorang untuk menjadi professor seperti beliau. 

Beliau mengutip peribahasa berbahasa latin, “verba volant, scripta manent” yang artinya, ucapan akan menghilang, sedangkan tulisan akan abadi. Tak henti-hentinya beliau menyematkan spirit dan harapan baru bagi calon jurnalis-jurnalis muda untuk selalu semangat dalam berproses. 

Untuk mewujudkan misi membentuk spirit jurnalis muda, Fakultas Syariah IAIN Jember melalui Media Center mengadakan Elementary Journalism Class (EJC) pada Sabtu (14/11/2020) yang merupakan workshop mengenai dunia-dunia kejurnalistikan serta dihadiri oleh berbagai peserta dari berbagai instansi. Workshop ini diadakan melalui aplikasi zoom, dengan narasumber yang mumpuni di bidangnya, yakni Wildan Rofikil Anwar yang mengupas tuntas tentang dasar-dasar kejurnalistikan, kemudian dilanjut oleh Edi Supriyanto yang membahas mengenai teknik wawancara yang baik dan benar. 

Dunia jurnalistik diklasifikasikan dalam beberapa macam, yakni jurnalistik cetak, jurnalistik radio, jurnalistik televisi, serta jurnalistik online. Perbedaan keempatnya hanya terletak pada platform atau medianya saja. Sedangkan perihal aspek-aspek yang lain, masih sama. Seperti harus menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran, serta tidak boleh mengandung keberpihakan kepada satu hal saja, melainkan juga melihat sudut pandang pihak lain, semua bentuk kejurnalistikan harus menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Selain itu, dalam menulis berita, Wildan menjelaskan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H, yakni apa, mengapa, dimana, kapan, siapa, dan bagaimana sesuatu kasus itu terjadi, harus dijelaskan di dalam laporan nantinya, barulah berita tersebut dikatakan baik dan benar. 

Dalam kejurnalistikan, satu hal yang tak kalah pentingnya adalah mengenai wawancara. Yang merupakan suatu kegiatan untuk mencari berita dengan cara menghubungi narasumber, baik secara langsung, maupun tidak langsung. Edi Supriyanto menjelaskan, bahwa untuk menghasilkan wawancara yang berkualitas, maka pewawancara harus memiliki sikap netral, ramah, adil, rapi, serta menghindari ketegangan. Sikap seperti ini sangat diperlukan untuk menguak lebih dalam tentang suatu hal dari narasumber. 

Edi juga menjelaskan, sejatinya keberhasilan seorang pewawancara dilihat dari sejauh mana ia mampu mengkondisikan interview dengan narasumber. Sehingga, pentingnya menyusun dan menyiapkan pertanyaan terlebih dahulu sebelum bertanya kepada narasumber merupakan suatu keharusan bagi seorang jurnalis.

Pada kesimpulannya, jurnalistik menjadi jawaban bagi generasi penerus bangsa untuk mengabadikan setiap perubahan dalam negeri ini, sehingga dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi sesudahnya. Dengan begitu, peradaban akan semakin maju dari masa-ke-masa.  

Related Posts

There is no other posts in this category.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar dengan baik ya, jangan lupa berkunjung lagi