Senin

SeninT05.07

Emma Watson, Sang Pelangi yang Menginspirasi

Oleh : Faisol Abrori 

Bagi dunia entertainment, nama Emma Watson telah melambung tinggi setelah sejumlah film layar lebar dibintanginya. Katakanlah series film Harry Potter, yang digarap mulai 2001 hingga 2011 yang mana ia memerankan sosok Hermione Granger, sosok remaja yang cerdas, dan bisa dikatakan ia sangat ahli memerankan tokoh dengan intelektualitas yang tinggi. Dari kedelapan series Harry Potter tersebut, Emma watson berhasil meraup penghasilan sebesar lebih dari 5,4 miliar dan bisa dikatakan sangat sukses besar.  Kesuksesan itu menjadi titik awal karirnya di dunia entertainment sehingga namanya cukup diperhitungkan saat ini. 

Di dunia nyata, ternyata sosok Emma watson tidak jauh berbeda dengan watak yang diperankannya. Ia memang tergolong wanita yang cerdas, serta memiliki interest yang tinggi di bidang keilmuan. Katakanlah, ia banyak bersuara mengenai kemanusiaan, kesetaraan gender, dan aspek-aspek perihal kemanusiaan lainnya. 

Tak heran, jika lembaga dunia sekelas PBB, untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) menunjuk Emma sebagai duta dalam acara yang bertajuk He For She. Dalam pidatonya, wanita yang merupakan sarjana Sastra Inggris Brown University ini, begitu semangat dalam menyampaikan perjalanannya untuk mengenalkan spirit feminisme untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. 

Baginya, konsep He For She berangkat dari kurangnya partisipasi laki-laki dalam hal kesetaraan gender sehingga baginya, perlu adanya kesadaran bagi personality masing-masing untuk memajukan kesetaraan gender dan menghapuskan adanya diskriminasi gender. 

Perempuan yang aktif membaca ini, dalam pandangannya memberikan gambaran bahwa sejatinya manusia harus merasa iba satu sama lain. Jika hak-hak gender lain diinjak-injak, maka seharusnya seluruh manusia merasakan sakitnya. Inilah pentingnya kesetaraan gender dan feminisme dalam upaya mewujudkan harmonisasi dunia. Lanjutnya, dalam pidatonya, terdapat tagline yang cukup terkenal dan akrab di telinga kita, yakni “Jika bukan saya, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?”

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar dengan baik ya, jangan lupa berkunjung lagi