Rabu

RabuT13.20

Pendidikan di Indonesia, Layakkah Menggunakan Sistem Online?

Pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih berkembang. Kecanggihan teknologipun masih belum bisa maksimal dalam menggungguli negara lain. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya fasilitas perihal dukungan dari segi intern maupun ekstern. Alih-alih demikian, sejak pandemi merebak Indonesia harus berupa keras untuk melaksanakan sistem pembelajaran daring alias online. Lantas, apakah layak pendidikan di Indonesia menggunakan sistem tersebut?

Berdasarkan pernyataan dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, Angka Partisipasi Kasar (APK) di Indonesia masih sebesar 32,5%. Angka tersebut tentu saja tertinggal dari beberapa negara maju seperti Korea Selatan. Faktanya, Korea Selatan memiliki APK Pendidikan Tinggi sebesar 92%. Oleh karena itu, sejak pandemi merebak, sistem pendidikan jarak jauh mulai dicanangkan.

Namun ternyata, sekalipun di beberapa kota besar yang ada di Indonesia memang bisa dikatakan mudah untuk menerapkan sistem pembelajaran online. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang kesulitan untuk menerapkannya. Mengapa? Beberapa faktor penyebabnya adalah ketidak mampuan mengoperasikan perangkat elektronik seperti misalnya laptop maupun smartphone Android.

Tidak hanya itu, setelah ditelusuri ternyata di sebagian besar daerah pelosok, banyak peserta didik yang kurang mampu memahami materi yang diberikan melalui sistem online. Hal ini bahkan dibuktikan dari adanya salah satu pemberitaan mengenai salah seorang siswa di bangku sekolah yang memutuskan untuk menikah karena tidak kuat mengikuti sistem pembelajaran online.

Lantas, berdasarkan salah satu fenomena tersebut apakah pendidikan di Indonesia yang menggunakan sistem online dinilai gagal dan tidak layak? Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, tentu tidak bisa secara asal mengkliam, pasalnya setiap daerah dan wilayah yang ada di Indonesia memiliki batasan kemampuan sendiri dalam menjalankan sistem pendidikan online ini.

Apalagi di Indonesia tidak semua guru cakap dalam menyampaikan materi melalui sistem online. Apabila ditinjau secara seksama, sebagian besar tenaga pendidik di Indonesia hanya mengedepankan pemberian tugas-tugas. Tidak hanya itu, peserta didik diharuskan mengumpulkan tugas sesuai dengan batas jam yang telah ditentukan. Apabila model penyampaian materi ini diperuntukkan untuk tingkat mahasiswa, mungkin dinilai masih cukup efisien. Lantas, bagaimana dengan peserta didik di bangku sekolah?

Apabila ditelaah secara nalar, peserta didik di bangku sekolah pasti akan merasa kesulitan. Belum lagi selama satu hari mata pelajaran yang diberikan lebih dari tiga mapel. Belum lagi peserta didik hanya diberi e-book dan tenaga pendidik hanya memberi perintah untuk mengerjakan halaman sekian sampai dengan sekian. Setelah itu, tenaga pendidik akan memberikan nilai tanpa pernah membahas materi perihal soal yang diberikan.

Apabila ditinjau berdasarkan fenomena di atas, bisa dikatakan sistem online untuk pendidikan di Indonesia dinilai kurang layak. Sekalipun kuota internet diberikan gratis hingga berbagai aplikasi tatap muka yang diakses tanpa biaya dihadirkan, namun jika dari pihak tenaga pendidik tidak bisa memanfaatkannya, maka semua akan berlalu dengan percuma. Mengingat, pendidikan di Indonesia seharusnya bukan hanya mengedepankan kuantitas, melainkan harus berkualitas.

Padahal, sistem online untuk pendidikan di Indonesia bisa memacu lahirnya generais bangsa yang berkualitas. Tentu saja apabila didukung dengan gawai yang memadai, tenaga pendidik yang kreatif dan cermat serta penyampaian materi yang mumpuni. Mengingat, setiap peserta didik memiliki daya paham dan daya tangkap yang berbeda dalam mencerna sesuatu.

Oleh karena itu, berangkat dari pandemi yang seolah memaksa Indonesia agar mampu melaksanakan pendidikan bersistem online, sudah seharusnya negara Maritim ini mampu berbenah diri. Seperti misalnya melakukan berbagai upaya untuk memahamkan dan melatih tenaga pendidik guna memberikan materi secara online. Apa contohnya? Salah satunya adalah seminar hingga pelatihan khusus.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar dengan baik ya, jangan lupa berkunjung lagi