Jumat

JumatT19.26

Finantier, Bantu Masyarakat Daerah Akses Layanan Finansial secara Maksimal #FinantierForBetterFuture

Bagi masyarakat perkotaan, mungkin memiliki rekening bank menjadi sebuah keharusan, dengan alasan tuntutan pekerjaan, atau untuk mendapatkan kemudahan membuka usaha, maupun berbagai kepentingan lainnya. Namun, bagaimana dengan masyarakat pedesaan? Atau mereka-mereka yang berada di pinggiran kota? Apakah mereka juga sama, atau justru sebaliknya?

Apa yang saya temukan dari pertanyaan-pertanyaan di atas?

Ternyata, 51% Penduduk Dewasa di Indonesia Belum Memiliki Bank!

Saya cukup tercengang setelah membaca artikel dari liputan6, disitu dijelaskan bahwa Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dengan populasi masyarakat yang tidak memiliki akun bank. Yakni ada setidaknya 95 juta penduduk atau 51% dari keseluruhan masyarakat Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank atau tidak terkait dengan lembaga jasa keuangan.

Padahal, peran jasa keuangan harus terus tumbuh untuk mencapai target Inklusi keuangan yang optimal bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ini tentu menjadi "PR" yang berat, karena seperti yang dijelaskan tadi, urgensi masyarakat pedesaan dan kesadaran keuangan yang minim, menjadi kendala utama kemajuan Inklusi keuangan di Indonesia.

Di sekitar rumah saya misalnya, masih banyak yang belum terlibat dalam keuangan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga kegiatan perekonomiannya stuck. Bayangkan saja, pendanaan untuk melebarkan usaha tidak bisa, sehingga hanya bergantung pada laba penghasilan yang tidak seberapa untuk diputar kembali dalam usaha yang dikelola. Cara ini tentu tidak efektif dan kita butuh percepatan ekonomi secara nyata.

Menanggapi hal itu, Finantier muncul dengan membawa inovasi yang terbaik dan brilian untuk mendukung percepatan ekonomi masyarakat Indonesia. Masyarakat yang sebelumnya kesusahan dalam mengakses layanan finansial, kini menjadi lebih leluasa, dan maksimal, terlebih dengan menggunakan teknologi Open Finance.

Memanfaatkan Open Finance untuk Mendukung Kemudahan dalam Dunia Finansial


Dalam masa digitalisasi seperti sekarang ini, segalanya serba mudah dan digital. Bertransaksi, berinteraksi, dan segala hal lainnya mudah dilakukan dengan perangkat mobile. Namun ternyata, masih terdapat berbagai macam kendala yang cukup "memusingkan" sehingga menghambat arus ekonomi nasional.

Baru-baru ini, saya membaca berita di situs kontan, bahwa persentase kredit bermasalah atau NPL (Non Performing Loan) dalam perbankan mengalami peningkatan, sebesar 3,21% pada Februari 2021. Pengkreditan macet dikarenakan terdampak covid-19 pada usaha yang dikelola.

Bagi industri P2P Lending dari berbagai layanan fintech, salah satu hal yang menjadi kendala utama sebelum memberikan dana pinjaman adalah data finansial. Data finansial sangat penting untuk mengetahui jejak digital orang yang hendak meminjam dana. Hal ini untuk memastikan kesiapan calon peminjam dalam membayar kredit, sehingga menghindari NPL atau gagal bayar dalam kegiatan tersebut.

Namun, data tersebut sangat sulit didapatkan. Antara satu platform dengan platform finansial yang lain, enggan memberitahukan data finansial, akhirnya penilaian kredit menjadi tidak tepat dan banyak terjadi NPL.

Sehingga, kemunculan fitur Open Finance menjadi solusi bagi dunia finansial di Indonesia. Hal ini karena Open Finance sendiri merupakan sebuah konsep dalam dunia fintech yang memungkinkan perusahaan dan konsumen memanfaatkan data mereka dengan aman dan memperoleh gambaran yang jelas tentang jejak keuangan seseorang.

Konsep Open Finance telah dimiliki oleh Finantier, sebuah startup pengembang layanan open finance, yang memungkinkan perusahaan finansial menggunakan sambungan API (Application Programming Interface). Hal ini sekaligus menjawab berbagai kesulitan dari sisi peminjam maupun pihak yang memberi pinjaman.

Bagi masyarakat daerah, kehadiran Finantier dapat membantu mereka yang ingin melakukan peminjaman dana meski tidak memiliki rekening bank. Salah satu keunggulan Finantier yakni dengan adanya produk Verifikasi Identitas. Dengan verifikasi identitas, seseorang dapat melakukan peminjaman, dan bank dapat dengan mudah melihat mengakses data melalui dompet digital untuk memastikan identitas peminjam. Jadi tidak perlu repot-repot lagi, bukan?

Selain itu, Finantier juga memiliki Credit Scoring. Kehadiran Credit Scoring sangat dinanti-nanti karena dengan konsep Credit Scoring yang dimiliki Finantier, dapat mencegah diskriminasi terhadap mereka yang tidak memiliki akun bank.

Sistemnya, Credit Scoring Finantier akan memindai jejak finansial seseorang, apakah ada masalah sebelumnya, dan bahkan dengan fitur ini, jika seseorang memiliki kendala pelunasan, dan terus-menerus dilunasi, maka arus kas bisnisnya menjadi positif. Manfaatnya, dapat diketahui mengenai kelayakan kredit bagi calon peminjam secara jelas dan aman tentunya.

Jadi, untuk masyarakat daerah, baik pedesaan, ataupun pelosok dan pinggiran kota, kalian tidak perlu lagi kesusahan untuk meningkatkan perekonomian, manfaatkanlah layanan Open Finance yang disediakan oleh Finantier. Karena fitur-fitur tersebut memang didesain khusus untuk kemudahan dan kemajuan perekonimian nasional kedepannya.

Semoga artikel ini dapat memberi gambaran dan harapan untuk ekonomi bangsa kedepannya.
Salam

Referensi :

https://id.blog.finantier.co/what-is-open-finance/
https://liputan6.com/bisnis/read/4502172/51-persen-penduduk-dewasa-indonesia-masih-belum-punya-rekening-bank
https://keuangan.kontan.co.id/news/npl-bank-meningkat-di-awal-tahun-2021-ini-penyebabnya

Artikel ini diikutsertakan dalam kontes blog #FinantierForBetterFuture

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar dengan baik ya, jangan lupa berkunjung lagi