Teori Neurosains Dalam Dunia Pendidikan -->

Kategori Berita

.

Teori Neurosains Dalam Dunia Pendidikan

Faisol abrori
Kamis, 23 Desember 2021

Pendidikan merupakan masalah utama yang harus dikembangkan dalam sebuah Negara. Kemajuan Negara sangat bergantung pada generasi muda yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Pada saat ini neurosains dalam pendidikan sangat dibutuhkan. Kunci utama dari suksesnya pendidikan adalah ilmu seorang pendidik mampu ditransfer dengan baik kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mendorong mudahnya proses belajar mengajar adalah sistem pembelajaran yang tidak membosankan dan menarik. 

Pengertian Neurosains Dalam Pendidikan 

Neurosains secara etimologi merupakan ilmu neural atau neural science yang mempelajari mengenai sistem saraf. Terutama mempelajari tentang sel saraf atau neuron melalui pendekatan multidisipliner. Definisi ini dikemukakan oleh Taufik Pasiak pada tahun 2012. 

Kemudian secara terminology, neurosains merupakan ilmu yang dikhususkan untuk studi saintifik terhadap system syaraf. Jadi secara umum neurosains ini merupakan satu bidang ilmu yang mempelajari mengenai otak dan seluruh syaraf otak serta fungsi-fungsinya. 

Terkadang dalam dunia pendidikan, seorang pendidik tidak memperhatikan tentang ilmu ini. Pengabaian terhadap sistem neurosains ini akan menyebabkan suasana dalam pembelajaran menjadi mati dan sangat membosankan. 

Neurosains dalam perkembangannya, juga erat kaitannya dengan kecerdasan sosial seseorang. Salah satu yang dipelajari yakni dalam kehidupan, terdapat orang-orang yang mudah percaya dengan orang lain, ada yang tidak. Hal ini karena pemilihan kelayakan seseorang untuk dapat dipercaya dalam konsep kedekatan, merupakan suatu hal di luar kesadaran kita, karena berdasarkan apa yang kita alami. 

Teori Neurosains Dalam Bidang Pembelajaran 

Dalam bidang pembelajaran, neurosains memiliki berbagai teori-teori mengenai isi otak. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat simak uraian singkat berikut ini: 

1. Teori Emosi 

Talamus merupakan tempat peranan emosi berada, yang mana bagian ini adalah bagian inti dari pusat otak manusia. Ketika ada stimulus atau rangsangan yang membangkitkan emosi manusia maka talamulus lah yang akan merespon pertama kali. Talamulus memberikan respon terhadap rangsangan dengan cara mengirim impuls secara serempak ke bagian korteks serebral dan mengirimnya ke bagian lain. Namun menurut penelitian lain, justru hipotamuluslah yang secara langsung terlibat dalam integrasi respons emosional. 

2. Teori Amygdala 

Amygdala merupakan struktur yang berada pada sistem saraf dan berbentuk seperti almonds yang terletak di bagian dasar lobus temporalis. Amigdala berperan sebagai ingatan dalam pengalaman emosional dan berfungsi pada system seksual. Amygdala tumbuh dan berkembang sebelum seseorang berusia 4 tahun, sehingga anak-anak cepat didalam menerima sensasi dan rangsangan yang bersifat emosional. Struktur otak yang satu ini berfungsi untuk menyimpan memori tentang peristiwa emosional. 

3. Teori Triune Brain 

Berdasarkan teori triune brine, otak manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu system limbic (limbic system), otak reptile (reptilian complex) dan Neokorteks (Neocortex). Masing-masing bagian ini memiliki fungsi yang berbeda dan cara kerja yang berbeda pula 

4. Teori Belahan Otak Kiri Dan Kanan 

Berdasarkan penelitian Jeffrey Gray, belahan otak kiri manusia berkaitan dengan sistem aktivitas atau perilaku manusia dapat mengindikasi kesenangan ataupun kemarahan. Sedangkan belahan otak kanan diasosiasikan dengan sistem perilaku pembangkitan dan meningkatkan perhatian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki korteks frontal otak kiri lebih tinggi maka orang tersebut biasanya lebih cenderung mudah bergaul dan cenderung bahagia. Sedangkan orang yang memiliki frontal otak kanan yang lebih tinggi cenderung  tertutup dan tidak mudah bergaul. 

Hakikat Neurosains Terhadap Peserta Didik 

Pengajaran yang menyenangkan akan membuat para peserta didik lebih mudah untuk menangkap materi dan memahaminya. Didalam dunia pendidikan, instrument teknologi pemindai otak sangat berpengaruh terhadap aktivitas pembelajaran. Neurosains kini menjadi ilmu yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan neurosains dapat memahami berbagai aktivitas otak manusia, sehingga memudahkan dalam mengontrol manusia. Berikut kontribusi otak dalam pendidikan:

1. Magnetoencephalography (MEG) dan Electroencephalography (EEG) 

EEG dan MEG memiliki kemampuan untuk membaca seberapa informasi yang dapat diproses oleh otak. Alat yang satu ini dapat mendeteksi aktivitas magnetic dan elektrik yang terjadi pada otak selama proses pembelajaran berlangsung. 

2. PET (Positron-Emission Tomography ) 

PET adalah sebuah teknologi yang berguna untuk mengobservasi cairan yang dapat bereaksi ke dalam otak yang memiliki fungsi radio aktif. Aktivitas ini ditangkap oleh cincin detector yang telah dipasang pada bagian kepala pasien. 

3. FMRI ( Functional Magnetic Resonance Imaging) 

Teknologi PET yang mendapatkan tidak dapat menerima radiasi yang terlalu tinggi, sehingga pemindaian radiasi akan digantikan oleh Functional Magnetic Resonance Imaging. Teknologi ini dapat menunjukkan area-area otak yang lebih spesifik ketika memproses suatu informasi. 

4. FMRS (Functional Magnetic Resonance Spectroscopy) 

Alat ini berguna untuk mengidentifikasi munculnya zat-zat kimia yang muncul pada area otak telah teraktivasi atau belum. Selain itu juga berguna sebagai penunjuk area otak yang sedang aktif untuk berfikir. 

5. SPELT ( Single Photon Emission Computed Tomography) 

Instrument tercanggih yang ada di bidang neurosains adalah Single Photon Emission Computed Tomography. Teknologi yang satu ini mampu merekam gelombang otak tanpa membawa orang yang diketahui ke dalam laboratorium medis. Berdasarkan tingkat perkembangan dapat diketahui bahwa ilmu mengenai neurosains dalam pendidikan sangat dibutuhkan. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan memahami kemauan otak seseorang.