Boros Berkedok Self-Reward, Dasar Kita! -->

Kategori Berita

.

Boros Berkedok Self-Reward, Dasar Kita!

Faisol abrori
Senin, 21 Februari 2022
boros berkedok self reward


Apa-apaan ini? Judulnya terlalu 'vulgar' untuk sebagian orang yang merasa tersentil karena pernah atau mungkin sering melakukan perilaku yang disebut boros. Bahkan, bisa jadi pembaca saat ini sedang senyam-senyum karena merasa saya tampar dengan satu judul di atas. Siapa tahu? Entahlah. Namun, rasanya itu semua tak lagi penting.


Sebagai seseorang yang moodyan, bukanlah hal yang mudah untuk mengatur kemana arahnya ego ini. Semenit mood dan bahagia, lalu tiba-tiba beberapa detik kemudian hilang, jadilah "ga mood". Anda benci dengan sifat saya? Sama, saya juga. Akan tetapi, poinnya bukan di situ, guys.


Karena ketidakpastian mood saya, selalu mendorong hasrat dan nafsu lahiriah untuk terus 'beli-beli' apapun yang saya inginkan, demi kembalinya satu hal: ya, 'mood' yang absurd ini. Sungguh menyebalkan.


Untuk meyakinkan pikiran dan hati bahwa apa yang saya lakukan ini benar, saya menyebutnya dengan istilah yang lebih halus : Self-Reward. Saya pikir aman lah ya, toh manusia kan harus mengapresiasi segala pencapaian yang telah dilakukan meskipun itu hal yang kecil.


Eh, dilalah kok dipikir-pikir keuangan saya makin amburadul ya? Tata kelolanya tak lagi beres, pemasukan, pengelolaan, pengeluaran, semua sama absurdnya dengan mood saya. Nah loh.


Ternyata setelah dipikir-pikir, ini sudah masuk ranah 'pemborosan' yang bahkan dalam agama pun dilarang, karena menimbulkan mafsadat (kerusakan) kepada diri kita sendiri, maupun orang lain.


Kesalahan persepsi mengenai Self-Reward bisa saja terjadi, jika manusia memaknainya sebagai upaya menghabiskan uang semaksimal mungkin untuk membeli hal-hal yang branded, atau nongkrong di cafe ternama, atau jajan-jajan terus sampe dompet mampus (padahal berat badan aja ga naik-naik, aneh).


Sebenarnya, Perlu Ga Sih Self-Reward? Dan Apa Perlu Self-Reward Mahal-mahal gitu?


Self-Reward memang perlu. Kita tidak bisa memungkiri, kita butuh yang namanya apresiasi dari diri sendiri, namun dengan batasan-batasan yang wajar.


Maksudnya? Setiap orang beda-beda, yang jelas kalau terlalu 'buang-buang' duit untuk hal-hal yang unfaedah, lebih baik jangan, karena itu akan memperparah habit atau kebiasaan kita menjadi lebih buruk lagi.


Banyak Self-Reward yang murah meriah, dan ga perlu menggelontorkan dana banyak-banyak kek investor, contohnya bisa dengerin podcast, atau melakukan hobi seperti ngeblog misalnya, menulis, menggambar, atau bisa juga traveling yang low-budget, kayak keliling kota, dan lain sebagainya.


Kesimpulannya, kalau boros mah boros aja, gausah pake ngeles 'Self-Reward' segala. Ubah kebiasaan buruk itu, mending kita biasakan menyisakan uang kita agar di tahun-tahun mendatang sudah bisa "financial stable".


Ah, dasar kita!


Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/_3Q3tsJ01nc?