Filosofi Permainan Catur, Sebuah Refleksi Kehidupan -->

Kategori Berita

.

Filosofi Permainan Catur, Sebuah Refleksi Kehidupan

Faisol abrori
Jumat, 25 Maret 2022

pexels/vlada karpovich


Facebook. Jujur, saya jarang buka aplikasi besutan Mark Zuckeberg ini. Palingan buka hanya untuk scroll-scroll video memasak seafood ala chinese, biar nggak lapar dan pasti sambil sesekali mengecek job-job untuk blog. (hehehe, maklum cari cuan). Cuman, kali ini ada yang beda, saya agak sedikit mengernyitkan dahi. Ada apa?


Rupanya saya tertampar saat membaca sebuah postingan di beranda Facebook, tentang sebuah foto dan captionnya yang unik, kira-kira begini :


"Hidup itu seperti bermain catur, kadang penonton merasa lebih pintar dari pemainnya".


Saya pikir "wah, bener juga sih", menurut pengalaman saya, tak terhitung sudah seberapa banyak ucapan yang memberitahu diri ini tentang langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terlihat sepele dan bahkan dengan bangganya orang-orang tersebut meremehkan suatu masalah yang sedang saya hadapi. Wah hebat, dong!


Ya, hebat. Namun bukan Faisol namanya kalau tak punya uneg-uneg tentang apa pun itu. Otak kecil saya protes "ya anda bisa bilang seperti itu karena anda tidak di posisi saya". Wih, sepertinya otak saya harus diberi applause karena berani berkomentar cukup menohok. Saya terdiam, lalu sejenak berpikir.


Sepertinya kritik otak saya ada benarnya juga. Terkadang, saya heran... dalam memandang suatu masalah, mengapa manusia cenderung memposisikan dirinya seakan-akan paling mengetahui seluk-beluk permasalahan hidup orang lain? Hmmm


Padahal kalau dipikir-pikir, masalah hidup saya begitu kompleks, dan orang-orang yang bahkan tak kenal saya, tak akrab dengan saya, tak tahu background saya, malah dengan mudahnya memberikan justifikasi tentang hal tersebut. Anda jenius!


Manusia dan Arogansi yang Tak Pernah Berhenti


Saya memiliki pandangan, bahwa manusia adalah makhluk arogan, yang merasa sangat mampu mendominasi manusia lain dengan menjelaskan kehebatannya. (saya bisa ini, saya bisa itu) bahkan dengan ucapan "masalahmu sepele, aku pasti bisa lah menyelesaikan itu kalau ada di posisimu, kamu saja yang lemah".


See? Pernah merasakan hal serupa? Mungkin sifat manusia memang seperti itu. Nyatanya, tidak semudah itu guys. Belum tentu ketika kita diberi masalah serupa, dengan kondisi serupa, dapat survive (bertahan) sejauh itu.


Memberi saran kepada orang lain sangat diperlukan, akan tetapi bukan berarti kita harus mengecilkan masalah orang tersebut. Menjadi manusia yang sekadar hidup memang mudah, tapi jika ingin menjadi manusia yang memanusiakan yang lain, maka butuh proses.


Jika kalian membaca ini, ingatlah bahwa tak ada masalah yang kecil maupun besar. Masalah sama saja masalah. Besar dan kecil hanyalah pandangan subjektifitas manusia yang terbatas, yang hanya dipenuhi oleh ego untuk merasa inferior dari manusia lain.


Entahlah, pemikiran saya mungkin bisa benar, mungkin juga bisa salah. Wallahu a'lam.