Petrichor dan Alasan Kenapa Aku Harus Berhenti Berharap Pada Manusia -->

Kategori Berita

.

Petrichor dan Alasan Kenapa Aku Harus Berhenti Berharap Pada Manusia

Faisol abrori
Minggu, 20 Maret 2022


Tic-toc! Bunyi detik jam dinding rumah terdengar begitu santer, seperti ingin membangunkanku dari tidur siang menuju kehidupan realita lagi, dunia. Hmmm rasanya lebih baik tidur lagi, toh di luar sudah tercium petrichor (bau khas tanah yang basah karena hujan). Jadi aku memutuskan kembali rebahan sambil menatap langit-langit dengan serius.


Bagi orang yang kasmaran, siang yang gerimis tadi pasti akan berubah menjadi puisi yang siap ditancapkan kepada hati pujaannya, biasanya begitu. Entahlah bagaimana realitanya. Yang jelas, rintik-rintik hujan selalu punya cerita sendiri bagi tiap orang, termasuk aku pribadi.


Hujan biasanya berisi kenangan indah yang jatuh, bersamaan dengan ratapan kehidupan dengan kejutan masalahnya yang silih berganti. Semuanya jatuh jadi satu genangan. Byur!


Aku kangen masa-masa dimana manusia kecil bahagia tanpa mengenal apa itu cinta? Andai boleh, aku ingin sekali memperpanjang masa-masa itu entah sampai kapan, mungkin hingga ajalku tiba, tapi sayangnya mustahil.


Jujur, ingin rasanya mandi hujan dan tertawa lepas seakan hidup ini isinya hanya kebahagiaan yang tak terbatas. Lagi-lagi, hayalku terlalu tinggi.


Berbeda jauh dengan keadaanku saat ini. Semakin dewasa, tentu semakin banyak masalah yang beragam. Benar kata orang, takut tambah dewasa, takut kecewa. Banyak hal ihwal kehidupan yang unexpected banget di masa-masa seperti saat ini.


Tentang Hidup yang Kuanggap Mudah, Maaf Ternyata Aku Salah


Dulu dengan bodohnya aku sempat berpikir, pasti menjadi dewasa enak.. Maklum saat itu aku masih sering dibully, jadi aku pikir menjadi dewasa bisa jadi jawaban terbaik agar tak lagi dibully. Aku ingin cepat-cepat sampai di masa itu, pikirku.


Dugaanku tak sepenuhnya benar. Meski aku tak lagi kena bully-an, namun aku dihantamkan dengan berbagai kenyataan yang begitu pahit bahkan mungkin menyakitkan.


Ya, satu hal yang bernama cinta, sukses membuat kacau hidupku. Ini bukan cinta biasa, namun tentang hasrat yang Tuhan berikan sebagai bentuk cobaan.


Kacau. Sangat kacau. Aku tak bisa mendefinisikan seberapa bingungnya diri ini. Bahkan, bayangkan saja, setiap saat aku harus melawan diriku sendiri, bahkan seringkali menangis sebelum tidur, hingga ketiduran.


Keren, kan? Belum lagi hinaan orang yang bertubi-tubi, dan desakan dari segala arah, sukses membuatku kelabakan. Terima kasih atas pengertiannya.


Dari situ aku tersadar, manusia tetaplah manusia dengan segala kekurangannya. Bisa jadi ia membenciku karena justru ia mencintaiku, terima kasih. Tapi bayangkan di posisiku? Bagaimana jika kalian adalah aku? Dikaruniai sifat yang unik, melawan itu, dan tetap berusaha tegar.


Oke, mungkin aku bukan yang paling buruk, namun percayalah bahwa cinta yang terhalang adalah bencana terburuk bagi makhluk yang lemah, manusia.


Entahlah, aku bingung harus menulis apa, aku bukan manusia yang baik, namun aku berusaha. Kadang aku tersandung batu, kadang terperosok ke dalam jurang, tapi entahlah, aku bingung. Kali ini benar-benar bingung, sama seperti dulu-dulu.


Izinkan aku bilang "cape" untuk hari yang panjang ini. Tulisan ini tak memiliki fungsi apapun, aku hanya ingin curhat dan berbagi sedikit masalah hidup, bukan untuk dicaci atau dipamerkan, tapi untuk sama-sama direnungi. Bersyukurlah atas apa yang dimiliki saat ini.


Thanks