Menapaki Hikmah Sisi Spiritualistik Ulama: Relasi Ilmu dan Keshalihan -->

Kategori Berita

.

Menapaki Hikmah Sisi Spiritualistik Ulama: Relasi Ilmu dan Keshalihan

Faisol abrori
Selasa, 17 Mei 2022

 


Sebenarnya, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan, salah satu di antaranya mempelajari relasi antara ilmu dan kesalihan yang hakiki dalam keteladanan seorang ulama. Jika kita memaknai kata ulama secara harfiah, artinya orang-orang yang berilmu, sedangkan dari sisi istilah, ulama didefinisikan sebagai sekumpulan orang berilmu yang banyak mengetahui ilmu agama, khususnya islam. 


Merujuk terminologi tersebut, saya tertarik untuk mengulas lebih dalam tentang sisi sufistikme ulama. Kebetulan, dalam acara Haul ke-18 Almaghfurlah KH. Yusuf Muhammad (Pendiri Pondok Pesantren Darus Sholah, tempat saya menimba ilmu, semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di Sisi-Nya), diundang Gus Qoyyum, seorang ulama kharismatik dari Lasem, beliau menjelaskan dengan baik dan detail mengenai spiritualisme, sufisme, hingga mengapa kita butuh semua itu.


Nabi Yusuf a.s berdoa : 


Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Yusuf [12]: 101).


Dalam doa Nabi Yusuf tersebut, terkandung nilai sufistik yang tinggi. Menurut tafsir al-wasith karya Sayyid Muhammad Thanthowi, bahwasanya seorang Nabi Yusuf adalah nabi yang mendapatkan kemuliaan di dunia, berupa pangkat, jabatan, sebagaimana ia menjadi menteri dan raja, namun di sisi lain, beliau tetap memikirkan tentang akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah), dengan mengucapkan wa-alhikni bissholihin (dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang shaleh).


Secara tersirat, doa tersebut mengajarkan nilai-nilai sufistik. Pada dasarnya, memang mencari uang, kekayaan, harta benda, materi, semua itu dicari karena memang itu adalah kebutuhan hidup kita. Kita tidak bisa menampik bahwa manusia sebagai makhluk yang nampak (bersifat materi) membutuhkan materi juga demi keberlangsungan hidupnya.



Namun jangan sampai lupa, bahwa ada hal yang jauh lebih penting dan lebih nyata daripada itu, yakni kebutuhan ukhrawi (akhirat). Nabi SAW bersabda : “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259).


Artinya, dalam hidup ini, seorang manusia juga harus menyempatkan waktu untuk mempersiapkan after life (hidup setelah kematian), dengan cara perbanyak mengingat Allah, memperbanyak shalawat, agar kelak mendapatkan syafaat Rasululllah, hal ini dilakukan atas dasar cinta dan semata-mata ikhlas untuk mendapatkan Ridho-Nya. Nabi SAW bersabda : Al-mar'u ma'a man ahabba (seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai). 



Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat sensitif dengan tasawuf. Beliau kerap kali memberikan kritikan yang tajam dan menohok, untuk madzhab sufisme Islam yang dinilai merusak sekaligus meruntuhkan syariat islam. Tak jarang, beliau mengutuk para penganut aliran wahdat al-wujud, dan men-cap mereka sebagai ahlul-bid'ah. Ibnu Taimiyah beranggapan bahwa kemunculan sufi-sufi kontroversial itu mengaburkan pokok-pokok keislaman pada umat. Bahkan, beliau menciptakan karya-karya fenomenal dan sekaligus kontroversial mengenai kritikannya ini, salah satunya kitab yang berjudul Al furqon baina aulia al rahman wa auliya al syaitan (Pembeda antara Kekasih Allah dan Kekasih Syaitan) dan masih banyak kitab yang lainnya. Namun demikian, di akhir hidupnya, beliau berwasiat agar ketika meninggal, makamnya didekatkan dengan makam sufi (orang-orang shalih). Artinya, beliau menyadari bahwa manusia baik secara sadar maupun tidak sadar, akan membutuhkan orang-orang shalih, sehingga dapat memberikan impact (dampak) yang positif kepada dirinya, sehingga menjadi washilah mendapatkan cahaya hikmah.


Ulama, merupakan orang yang mendapat karunia luar biasa yang diberikan Allah, berupa akal dan hati yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Terdapat firman Allah SWT: Innama yakhsyallahu min ibadihil ulama'. Maknanya, Para ulama menjadi orang yang paling khawatir dan paling takut kepada Allah. Ulama menjadi pangkat yang tinggi setelah Nabi, yang menggunakan akal pemberian Allah, digunakan untuk mencari dan berbagi tentang keilmuan, yang mana dalam islam sendiri, ilmu memiliki kedudukan yang tinggi, dan siapa saja yang memperoleh ilmu, maka ia akan mendapatkan derajat yang tinggi nan mulia, baik di sisi Allah SWT, maupun kedudukan di antara manusia.


Ditambah, tipologi Ulama yang sesuai standar dan ideal adalah seseorang yang tak hanya berilmu, namun juga mampu memiliki khushyatullah (takut kepada Allah). Khashyah (takut) memiliki makna yang sangat tinggi. Dalam kitab Mu'jam Mufrodat dijelaskan kata Khashyah menunjukkan rasa takut yang disertai bentuk pengagungan, di dalamnya berarti terdapat rasa takut berlebih sehingga hanya boleh disematkan kepada Allah SWT. Az-Zarkasyi memaknai al–khashyah sebagai al–ijlal (الأجلال) yaitu penghormatan dan al-ta’zim (التعظم) yang berarti pengagungan.


Al-khashyah memiliki dua makna. Yang pertama, berarti ketaatan. Dimana lafadz "khashiya" memiliki makna takut, tunduk dan patuh atas segala apa yang telah Allah perintahkan (contoh: QS. Qaf [50] 31-35). Kedua, bermakna ibadah yang maknanya, dalam kalimat tersebut melahirkan dorongan untuk beribadah. Maksudnya bukan takut yang bersumber dari naluri manusia melainkan takut hanya kepada Allah. Ini suatu peringkat yang tidak dapat dicapai kecuali oleh para nabi dan manusia-manusia istimewa yang dekat dengan Allah. 



Salahuddin Al-Ayyubi, yang nama lengkapnya Yusuf bin Ayyub. Beliau merupakan seorang sultan sekaligus ulama yang oleh Abu Hasan Ali An-Nadwi disebut sebagai orang yang masuk dalam rijalul-fiqhi wa dakwah, yakni termasuk orang yang memiliki pengaruh besar dalam bidang fikih dakwah islam. Kisahnya diceritakan dalam kitab Siyar A'lamin Nubala' karya Adz Dzahabi, bahwa Salahuddin Al-Ayyubi tidak meninggalkan sedikitpun di akhir hidupnya, beliau hanya meninggalkan beberapa keping dinar saja, sebagai bentuk khushyahnya kepada Allah, dan bentuk ketakutan akan hisab terhadap orang yang memiliki banyak harta.


Mungkin kita belum bisa untuk mencapai tingkatan beliau, terlebih banyak godaan materialistik duniawi di zaman ini, namun bukan berarti kita 'lepas rem' terhadap apa yang dititahkan. Seyogyanya kita bisa mengambil hikmah dan keteladanan yang baik tentang kezuhudan beliau, ketakutan beliau kepada Allah SWT, sehingga kita bisa selamat di dunia dan akhirat.


Hal selanjutnya yang harus diketahui yakni orang yang shalih biasanya dikaruniai firasat. Pernah suatu ketika, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani bersama temannya yang bernama Ibnu Saqa' berniat mengunjungi seorang ulama (wali) yang bernama Syaikh Yusuf bin Waharah. Keduanya memiliki niat yang berbeda, syeikh abdul qadir berniat meminta doa dan barokah, sedangkan Ibnu Saqa' berniat ingin bertanya tentang hal yang sekiranya mempermalukan wali tersebut di mata khalayak. 


Kemudian saat menghadap sang wali, Syeikh yusuf bin waharah memiliki firasat bahwa syeikh abdul qadir akan menjadi wali besar, terbukti hingga kini, manaqibnya dibaca dan diamalkan oleh jutaan umat manusia, dari seluruh penjuru dunia, sedangkan ibnu saqa', bahkan sebelum ia berbicara, Syeikh Yusuf membentaknya dan mengatakan "Diam! Aku mencium bau kekufuran dari mulutmu". Dan benar saja, ibnu saqa' mati dalam keadaan tidak islam, dikisahkan sangat menderita di akhir hidupnya. Bisa dibaca dalam wafayat al-ayan karya khallikan. (Mungkin akan saya buatkan artikel khusus mengenai hal ini. Insya Allah.)


Hikmahnya, jangan sekali-kali mencoba untuk mengetes guru, karena hal itu sungguh tidak beradab, dan tentu menyakiti guru. Terlebih jika ulama tersebut merupakan waliyullah (kekasih Allah), maka jangan sekali-kali menunjukkan hal yang tidak pantas, meskipun itu sebatas gumaman dalam hati, karena biasanya orang-orang shalih itu dikaruniai firasat intuitif yang sangat tajam.



Seorang yang shalih juga harus menjaga marwah, haibah (wibawa). Mengingat di zaman ini sudah langka ulama-ulama yang memiliki marwah, bahkan di berbagai tempat banyak celaan terhadap habaib dan ulama, artinya perlu untuk melakukan rekonstruksi dalam spiritualisme islam di Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran akan eksistensi haibah ulama' (kewibawaan ulama). 


Mengapa hal itu penting? Tentu kewibawaan seorang ulama itu sangat penting. Dakwah agama Allah tidak akan berjalan apabila marwah ulama itu hilang, baik karena menurunnya kesadaran masyarakat maupun dari sisi individualnya, yakni ulama itu sendiri tidak mampu menjaga marwahnya. Karena apabila seorang ulama kehilangan marwahnya, maka qauluhu ghairu masmu' (perkataannya tidak didengar), kalamuhu ghairu maqbul (apa yang dia sampaikan tidak diterima), qauluhu ghairu ma'mul (apa yang ia katakan, tidak diamalkan).


Konklusinya, dalam diri seorang ulama memiliki cahaya yang luar biasa, berupa karunia ilmu dan karunia keshalihan. Keduanya memiliki relasi atau hubungan yang kuat dalam menjadi pilar-pilar dakwah Islam. Semoga kita bisa dimasukkan ke dalam golongan orang-orang shalih.


Penulis: Faisol Abrori, Mahasiswa Fakultas Syariah UIN KH. Achmad Shiddiq, Jember