Psikologi Keluarga : Jenis-jenis Konflik dalam Keluarga dan Penyebabnya -->

Kategori Berita

.

Psikologi Keluarga : Jenis-jenis Konflik dalam Keluarga dan Penyebabnya

Faisol abrori
Rabu, 18 Mei 2022

Konflik dalam keluarga


Dalam ilmu psikologi Keluarga, konflik menjadi hal yang lumrah terjadi dalam penyelenggaraan rumah tangga. Banyak sekali hal yang memicu terjadinya konflik maupun perpecahan, baik itu disebabkan karena hal kecil, maupun hal besar, yang memberikan dampak beragam bagi setiap anggota keluarga. 


Penyebab/Sumber Konflik Dalam Keluarga


Penyebab atau sumber konflik keluarga disebabkan karena dua hal, yakni sumber internal dan eksternal keluarga itu sendiri. 


1. Sumber internal


Artinya, konflik dalam keluarga terjadi karena disebabkan oleh keluarga itu sendiri, misal adanya ketidaksepakatan, munculnya ketegangan karena sifat kepribadian masing-masing anggota keluarga, dan penyebab dari dalam lainnya. 


2. Sumber eksternal


Selain dari dalam keluarga, sumber konflik juga bisa berasal dari luar keluarga. Misalnya, munculnya pihak ketiga sehingga memicu kecemburuan rumah tangga, atau bisa juga konflik disebabkan karena adanya ketidakseimbangan ekonomi rumah tangga, karena PHK, dan berbagai penyebab lainnya. 


Pembagian Konflik Berdasarkan Jangka Waktu 


Selain itu, konflik juga diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu masalah, terbagi menjadi dua, yakni solvable conflict dan perpetual conflict. Apa itu? 


1. Solvable Conflict


Sesuai artinya, solvable conflict yakni konflik jangka pendek yang dapat diselesaikan, karena penyebabnya atau akar masalahnya mudah untuk ditemukan dan diselesaikan. Misalnya perbedaan keinginan mengecat warna rumah, perbedaan selera masakan, perbedaan tujuan wisata keluarga, dan lain sebagainya. 


Hal-hal tersebut digolongkan solvable, karena dapat diselesaikan dengan baik melalui pendekatan-pendekatan dalam keluarga, misalnya pendekatan emosional, bahasa, dan lain sebagainya. 


2. Perpetual Conflict


Yakni konflik jangka waktu panjang yang terjadi dalam keluarga. Hal ini bisa saja terjadi karena akar masalah yang muncul itu menyinggung hal-hal yang sifatnya prinsipil. Contohnya, konflik beda agama dalam keluarga, konflik adat istiadat, dan lain sebagainya. 


Tentu butuh waktu yang cukup lama, bahkan hingga seumur hidup untuk menyelesaikan konflik ini, karena sifatnya yang sangat dasar, sehingga sulit untuk mengubah baik salah satu sisi maupun keduanya. 


Pembagian Konflik Berdasarkan Sifatnya


Selain itu, berdasarkan sifatnya, konflik dibedakan menjadi dua, yakni konflik Destruktif dan Konstruktif. 


1. Konflik Destruktif


Konflik Destruktif, artinya cara pandang kita yang memandang negatif terhadap konflik itu sendiri. Memang konotasi konflik adalah hal yang negatif, namun tidak selalu diartikan demikian, karena itu akan berdampak kepada psikis suatu keluarga. 


Konflik Destruktif muncul karena 3 hal:


  1. Persepsi yang negatif terhadap konflik. Jika kita memandang suatu hal dengan pandangan negatif, maka secara keseluruhan akan sulit menemukan kedamaian dan hikmah di balik itu semua. Yang terjadi justru konflik itu akan membuat perpecahan timbul bahkan paling parahnya menyebabkan kocar-kacirnya suatu keluarga. 
  2. Menyikapi dengan amarah. Tak dapat dipungkiri, jika seseorang menggunakan amarah untuk menyelesaikan suatu konflik, maka besar kemungkinan, justru tidak akan menimbulkan kesepakatan dan cenderung berakhir pada hal-hal yang tidak diinginkan, anarkisme misalnya. 
  3. Menunda menyelesaikan konflik. Konflik Destruktif biasanya muncul karena kita sering abai terhadap konflik itu sendiri. Kita berpikiran "biarkan waktu yang menyelesaikan" atau dengan pandangan "halah, nanti lama-kelamaan juga mengerti sendiri". Ini adalah pola pikir yang salah. Masalah seharusnya segera dicari jalan keluar, bukan malah dibiarkan hingga sampai di suatu titik, masalah itu berubah menjadi konflik, dan berakhir dengan perpecahan. 


2. Konflik Konstruktif


Kebalikannya, konflik Konstruktif berarti konflik yang membangun. Ini adalah kesadaran pola pikir keluarga dalam memandang konflik itu sendiri. Pola pemahaman ini biasanya tertanam karena menganggap bahwa perbedaan itu anugerah, atau masalah yang muncul diartikan sebagai suatu proses untuk berbenah diri.


Orang yang memandang konflik sebagai suatu hal yang membangun, justru lebih siap dan lebih baik menghandle situasi yang sulit dalam keluarga. Misalnya, seorang suami yang terkena PHK, melakukan komunikasi yang baik dengan istri, lalu bersama-sama mencari jalan keluar, tentu ini menjadi hal yang harus diterapkan, dibanding marah-marah dan tentu harus menyikapinya dengan penuh optimisme.


Keutuhan keluarga menjadi prioritas masing-masing anggota keluarga. Next artikel, saya akan membahas tentang bagaimana macam-macam pola asuh anak, hingga problematika yang ada dalam keluarga. 


Semoga artikel ini bermanfaat. Salam.