Memerangi Hoax Dalam Dakwah di Media Sosial -->

Kategori Berita

.

Memerangi Hoax Dalam Dakwah di Media Sosial

Faisol abrori
Rabu, 08 Juni 2022


Dakwah merupakan kegiatan menyeru kepada manusia untuk kembali taat kepada Allah swt. Sejak dahulu hingga saat ini, dakwah masih dilaksanakan melalui kajian, khutbah shalat jum’at, dan sebagainya, yang dilakukan secara terbuka atau ditempat-tempat umum.


Kemajuan teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Peredaran informasi bukan lagi halangan di era sekarang. Di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia, informasi merupakan hal penting agar dapat mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Dakwahpun juga demikian, saat ini dakwah bisa disampaikan melalui internet dengan cara membagikan tulisan dan rekaman video yang kita buat atau dengan live streaming yang dapat disimak dan ditonton oleh khalayak umum.


Dakwah yang tersebar baik tulisan maupun rekaman merupakan salah satu bentuk dari informasi yang mengandung nilai agama. Cepatnya arus informasi bisa saja membuat suatu informasi berisi hoax (palsu) karena tidak ada filter yang menyaring informasi. Karena itu kita perlu banyak belajar agar dapat terhindar dari hoax.


Rasulullah saw, pernah menyampaikan bahwa :


بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)


Hadist diatas sering dijadikan acuan masyarakat untuk berdakwah atas pelajaran apa yang mampu dia berikan atau bagikan kepada orang lain. Besarnya pahala membuat setiap muslim berlomba-lomba untuk menyampaikan sabda nabi yang dipelajarinya.


Belajar tanpa ada arahan guru, tidaklah salah namun rentan terkena pemikiran-pemikiran menyimpang. Demikian juga dakwah, setiap muslim bisa berdakwah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ada yang mempelajari agama hingga menjadi ahli hadits, ada pula yang menjadi ustadz di kampung, dan ada pula yang hanya sekadar mempelajarinya untuk menambah wawasan.


Sah-sah saja rasanya kita berdakwah dengan cara membagikan ulang informasi atau konten baik tulisan atau video seputar agama. Yang paling penting ketika membagikan ulang adalah harus memfilter isi dari konten tersebut agar tidak menyesatkan. Sayangnya meski telah banyak difilter sekalipun, masih banyak konten yang berisi hoax. Akibatnya masyarakat cenderung salah kaprah.


Nabi telah memberikan perintah untuk berdakwah. Namun yang mesti kita perhatikan bukan hanya dari potongan hadist diatas, kita harus mencari tahu hadist tersebut secara utuh tentang bagaimana perintah dakwah yang Nabi Saw Maksudkan. Bentuk penuh dari hadist diatas dapat kita temukan di kitab shahih bukhari, yang isinya :


حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ


Telah bercerita kepada kami Abu 'Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy telah bercerita kepada kami Hassan bin 'Athiyyah dari Abi Kabsyah dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".


Hadist tersebut merupakan hadist shahih karena terkenal di kalangan perawinya serta telah diuji keshahihannya oleh para ulama. Dapat kita temukan pendapat ulama pada kitab hadist Jami' At-Tirmidzi, hadist nomor 2593 pada bab kitab ilmu yang isi pendapatnya ialah :


قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ


Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih.' Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abu Ashim dari al Auza'i dari Hassan bin Athiyyah dari Abu Kabsyah as Saluli dari Abdullah bin Amru dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semisalnya, dan ini hadits shahih.


Dalam keterangan lengkap pada hadist shahih diatas, bisa kita temukan bahwa Nabi Muhammad Saw memang memerintahkan untuk berdakwah, namun yang harus dipahami bahwa apabila dalilnya bukan berasal dari Allah dan Rasulnya (Nabi Muhammad Saw) maka dia akan dimasukkan kedalam neraka. Ini menjadi peringatan keras bagi setiap muslim yang mencoba untuk menyebarkan dakwah dengan cara berbohong atau dengan cara menyebarkan konten hoax.


Sudah sepantasnya kita sebagai muslim untuk belajar dan memberikan dakwah kepada orang yang tidak memahami agama agar terciptanya kehidupan yang sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Memfilter isi konten juga sangat diperlukan agar tidak terjadi salah kaprah dan tidak terjadi adu domba sesama umat islam. wallahu a'lam bishawab.


Penulis: Ahmad Hariyono (Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang)