Kategori Berita

Blogger JatengInovasi VIO Optical Clinic Untuk Penglihatan Yang Lebih Baik

Mengenal Apa Itu Testimonium De Auditu

Faisol abrori
Berita ambon Berita maluku
Jumat, 19 Januari 2024

 

testimonium de auditu

Dalam ranah proses hukum, alat bukti memainkan peran penting dalam menentukan kebenaran dan memberikan keadilan. Di antara berbagai jenis alat bukti, terdapat "testimonium de auditu", yang juga dikenal sebagai bukti desas-desus, dianggap unik dan sering kali dicap kontroversial. Sebenarnya, apa itu testimonium de auditu?


Apa yang dimaksud dengan Testimonium de Auditu?


Testimonium de auditu, secara harfiah diterjemahkan dari bahasa Latin sebagai "kesaksian dari apa yang didengar," mengacu pada informasi dari pihak kedua yang disampaikan oleh seorang saksi yang tidak secara pribadi mengalami peristiwa yang dimaksud. Pada dasarnya, kesaksian ini melibatkan seorang saksi yang mengulangi apa yang mereka dengar dari orang lain tentang peristiwa tersebut. Mudahnya, testimonium de auditu adalah kesaksian seseorang karena mendengar dari orang lain. 


Artinya, saksi testimonium de auditu tidak melihat secara langsung, tidak mengetahui, mendengar, maupun tidak mengalami peristiwa tersebut. Lalu, mengapa hal itu kerap dipandang kontroversial?


Mengapa Testimonium de Auditu Dicap Kontroversial dalam Dunia Hukum?


Diterimanya testimonium de auditu di pengadilan telah menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Para pengkritik berpendapat bahwa bukti tersebut pada dasarnya tidak dapat diandalkan karena beberapa faktor:


  • Akurasi: Informasi yang disampaikan melalui beberapa orang rentan terhadap distorsi dan salah tafsir. Setiap penceritaan ulang dapat menimbulkan kesalahan atau bias, sehingga mengorbankan keakuratan catatan asli.

  • Verifikasi: Karena saksi tidak secara langsung mengamati peristiwa tersebut, memverifikasi kredibilitas sumber desas-desus menjadi sulit. Pengadilan tidak memiliki kesempatan untuk menilai sumber yang dapat dipercaya dan motif potensial untuk merekayasa.

  • Konfrontasi: Aturan desas-desus sering kali menghalangi terdakwa untuk secara langsung mengkonfrontasi sumber asli dari informasi tersebut, sehingga menghalangi kemampuan mereka untuk menguji kebenarannya.


Lalu, Bagaimana Implementasi Testimonium De Auditu di Indonesia?


testimonium de auditu dalam persidangan


Di Indonesia, kategori saksi telah diatur dalam Pasal 1 angka 26 KUHAP. Menurut pasal tersebut, yang dimaksud saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar, lihat, atau alami sendiri.


Namun, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK No. 65/PUU-VIII/2010 memperluas terminologi saksi, yakni: 


Pasal 1 angka 26 KUHAP dan 27, Pasal 65, Pasal 116 ayat (3), (4), Pasal 184 ayat (1a) KUHAP bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 sepanjang tidak dimaknai termasuk pula “orang yang dapat memberikan keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.


Oleh karena itu, setiap orang yang memiliki pengetahuan langsung tentang terjadinya tindak pidana wajib didengar sebagai saksi demi tercapainya keadilan dan keseimbangan antara penyidik dan tersangka/terdakwa.


Testimonium De Auditu dalam Praktik Persidangan


Testimonium de auditu adalah kesaksian yang diberikan oleh seorang saksi yang hanya mendengar cerita dari orang lain tentang suatu peristiwa. Pada prinsipnya, testimonium de auditu tidak dapat diterima sebagai alat bukti dalam praktik peradilan. Hal ini dikarenakan testimonium de auditu memiliki beberapa kelemahan, yaitu:


  • Kemungkinan terjadinya distorsi informasi. Informasi yang disampaikan oleh orang pertama kepada orang kedua dapat mengalami distorsi atau perubahan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti bias, ingatan yang tidak lengkap, atau interpretasi yang berbeda.


  • Kemungkinan terjadinya rekayasa informasi. Orang kedua yang menyampaikan informasi kepada saksi dapat merekayasa informasi tersebut untuk kepentingan tertentu.


  • Kemungkinan terjadinya kesaksian palsu. Saksi dapat memberikan kesaksian palsu yang tidak sesuai dengan kebenaran.


apa yang dimaksud testimonium de auditu


Meskipun demikian, dalam kasus-kasus tertentu, hakim dapat mengkonstruksi testimonium de auditu sebagai alat bukti persangkaan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan objektif dan rasional, yaitu:


  • Keterangan saksi tersebut harus didukung oleh bukti-bukti lain yang memperkuatnya.
  • Keterangan saksi tersebut harus berasal dari orang yang dapat dipercaya.
  • Keterangan saksi tersebut harus disampaikan dengan jujur dan tulus.


Pada tahun 1983, Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan Putusan No. 881 K/Pdt/1983, yang menolak testimonium de auditu sebagai alat bukti. Putusan ini menyatakan bahwa testimonium de auditu tidak dapat diterima sebagai alat bukti karena tidak memenuhi syarat sebagai alat bukti yang sah.


Namun, pada tahun 1959, MA juga pernah mengeluarkan Putusan No. 308 K/Pdt/1959, yang mengkonstruksi testimonium de auditu sebagai alat bukti persangkaan. Putusan ini menyatakan bahwa testimonium de auditu tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti langsung, tetapi dapat diterapkan sebagai alat bukti persangkaan.


Putusan MA No. 308 K/Pdt/1959 menunjukkan bahwa hakim memiliki kewenangan untuk mengkonstruksi testimonium de auditu sebagai alat bukti persangkaan dalam kasus-kasus tertentu. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan objektif dan rasional, yaitu:


  • Keterangan saksi tersebut harus didukung oleh bukti-bukti lain yang memperkuatnya.
  • Keterangan saksi tersebut harus berasal dari orang yang dapat dipercaya.
  • Keterangan saksi tersebut harus disampaikan dengan jujur dan tulus.


Pada akhirnya, apakah testimonium de auditu dapat diterima sebagai alat bukti atau tidak, merupakan kewenangan hakim untuk memutuskan. Hakim harus mempertimbangkan berbagai faktor secara objektif dan rasional dalam mengambil keputusan tersebut.

>