Kategori Berita

ZMedia

Cara Cerdas Kenali Social Engineering Agar Rekeningmu Tak Habis Terkuras

Faisol abrori
Berita ambon Berita maluku
Jumat, 07 Juni 2024

 

Keluargaku dan Teror Nomor Tak Dikenal


Ngga habis pikir. Sebulan terakhir, keluargaku diteror nomer-nomer tak dikenal dalam rentang waktu yang berdekatan. Bapakku misalnya, yang terus-menerus mendapatkan panggilan anonim yang sangat mengganggu. Mulai ketika bekerja, hingga sesampainya di rumah pun tak luput dari panggilan random tersebut.


Anehnya, ketika diangkat, terdengar suara meyakinkan seperti teller bank yang kemudian menjelaskan bahwa ada informasi yang harus diberikan untuk proses verifikasi bank nasabah. Beruntungnya, bapak tidak memberikan informasi apa pun dan langsung menutupnya.


Kejadian ini sama persis seperti yang dialami Ibu beberapa tahun silam, dimana saat itu hampir saja Ibu memberikan data-data sensitif ketika ditelepon "oknum" ini. Modusnya hampir sama, yakni untuk proses verifikasi dengan iming-iming hadiah sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar. 


Ketika itu, aku sedang menghadiri acara di luar kota, dan kebetulan smartphoneku mati total, sehingga tidak bisa menerima panggilan atau pesan dari Ibu. Beruntung sekali saat itu ibuku diingatkan oleh tetangga, bahwa panggilan tersebut merupakan modus penipuan, dan menyarankan untuk segera memblokir nomor tersebut. Jika tidak, bisa-bisa rekening Ibu ludes tak tersisa. Mengerikan!


Dari sini jelas terlihat, bahwa siapa pun di dunia ini tidak benar-benar aman dari pelaku kejahatan. Siapa pun bisa jadi korban, jika tidak waspada. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan mengetahui dan mewaspadai kejahatan social engineering tersebut melalui pembekalan literasi finansial yang cukup.


Nah, bagaimana cara mengenali modus penipuan social engineering ini dan cara mengatasinya? Yuk, simak bersama.


Cara Kenali Social Engineering Agar Tak Mudah Terhasut "Iming-iming"!



Social Engineering (soceng) sendiri merupakan teknik manipulasi psikologis yang digunakan oleh penipu untuk mendapatkan informasi pribadi secara ilegal. Teknik ini seringkali memanfaatkan kepercayaan, rasa takut, atau kebingungan korban untuk mencuri informasi sensitif seperti nomor rekening bank, kata sandi, atau data pribadi lainnya. 


Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kerugian bank umum yang diakibatkan social engineering pada 2021 mencapai Rp246,5 miliar, sedangkan kerugian pada nasabah menyentuh Rp11,8 miliar. Ini mengindikasikan bahwa soceng merupakan masalah serius yang harus diantisipasi bersama, agar tidak terjadi kembali di masa yang akan datang.


Namun tidak perlu khawatir, berikut terdapat beberapa ciri yang sangat identik dengan social engineering:


1. Pesan Mendesak



Ciri umum yang sangat melekat pada Social Engineering adalah adanya pesan yang disertai "desakan". Biasanya, pelaku menggunakan kata-kata seperti "segera", "penting", atau "sekarang juga". 


Hal ini dilakukan, agar calon korban merasa takut, panik, maupun cemas, sehingga ketika seseorang sedang berada dalam kondisi seperti ini, biasanya mereka cenderung mengambil tindakan spontan tanpa proses cross check terlebih dahulu.


2. Permintaan Data Pribadi yang Mencurigakan


Informasi pribadi merupakan benteng terakhir yang kita punya untuk melindungi semua kepentingan, termasuk perihal keamanan perbankan dan produk keuangan lainnya. Nah, pelaku social engineering tidak akan bisa menguras rekening kita, jika mereka tidak memiliki data pribadi tentang kita, seperti PIN, tanggal lahir, nama ibu kandung, dan lain sebagainya.


Sehingga, patut dicurigakan ketika data pribadi tersebut justru diminta melalui telepon anonim yang tidak dikenal. Tentunya sangat aneh, bukan?


3. Penawaran atau Iming-iming Hadiah Dalam Jumlah Besar


Pelaku social engineering juga akan  menghalalkan segala cara untuk mendapatkan data pribadi calon korbannya, termasuk dengan menawarkan hadiah yang sangat tidak masuk akal, dimana syaratnya korban harus memberikan data pribadi untuk keperluan verifikasi, atau melakukan pembayaran terlebih dahulu sebelum mendapatkan hadiah tersebut.


4. Berpura-pura Mewakili Instansi Ternama


Ciri yang terakhir, yakni penipu biasanya berpura-pura menjadi perwakilan dari institusi ternama, atau lembaga, hingga perusahaan terpercaya, yang terafiliasi dengan korban, seperti bank, hingga instansi pemerintah. Tujuannya untuk menjebak korban agar mau memberikan informasi sesuai yang diinginkan si penipu.


Nah, setelah mengetahui berbagai modus social engineering, selanjutnya langkah apa yang bisa lakukan? 


Cara Bijak Agar Tak Jatuh Pada Modus Soceng yang Menjebak


Kemajuan teknologi saat ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, perkembangan teknologi yang begitu pesat, mengantarkan manusia pada peradaban yang mutakhir, seperti kemudahan digitalisasi, komunikasi, dan inovasi lainnya. Namun tak bisa dipungkiri, celah teknologi juga seringkali dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menebar modus soceng yang kian marak menyasar rekening-rekening nasabah.


Sebagai nasabah, kita perlu cerdas dalam mengambil tindakan untuk melindungi uang di rekening kita. Kuncinya adalah tidak mudah percaya dan #BilangAjaGak terhadap pesan maupun panggilan yang meragukan. Atau untuk lebih jelasnya, katakan "TIDAK" untuk tiga hal berikut:


1. Tidak Klik Link Sembarangan



Jika ada panggilan atau pesan yang mencurigakan, dimana menyuruh untuk memasukkan data pribadi melalui link tertentu, maka jangan gegabah untuk mengklik link yang diberikan. Coba perhatikan terlebih dahulu, apakah link tersebut aman atau tidak? Periksa url dengan seksama, mulai dari domainnya, hingga karakter-karakter tertentu yang biasanya disembunyikan untuk memanipulasi link seakan-akan itu web asli. 


Sekilas, memang mirip. Bahkan tampilan websitenya pun dibuat semirip mungkin. Jebakan ini memang dibuat sedemikian rupa untuk mengelabui korban, tujuannya agar korban memasukkan data pribadi di web palsu tersebut, sehingga pelaku bisa menguras rekening korban. Inilah yang dinamakan phising.


Tak heran, serangan phising di Indonesia menjadi salah satu tren kejahatan siber yang paling marak terjadi. Laporan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mencatat, setidaknya telah terjadi 5.579 serangan phising sepanjang kuartal II-2022, jumlah ini bahkan meningkat sebesar 41,52% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 


Hal ini sangat berbahaya, mengingat phising tersebut kebanyakan menargetkan lembaga keuangan, yang berpotensi menyebabkan kerugian berupa kebocoran data pribadi hingga kerugian finansial.


Cara mudah menghindarinya, pastikan untuk selalu cek sumber dari mana link itu berasal, lihat setiap detail domain yang tertera, atau biar lebih aman, hanya klik link dari sumber yang terpercaya, untuk menghindari terjebak pada situs phising


2. Tidak Mudah Tergiur Iming-iming



Kalau berbicara hadiah, memang terdengar indah, apalagi dengan nominal yang luar biasa besar, terkadang bikin mata kita hijau, bukan? Eits,. jangan bahagia dulu jika mendapatkan telepon demikian, apalagi sampai percaya dengan iming-iming tersebut, karena bisa jadi itu adalah "umpan"  yang sengaja ditargetkan oleh pelaku soceng.


Di era digital saat ini, kita tidak pernah tahu siapa yang berada di balik suara tersebut, apakah benar yang menelepon dari pihak teller bank, atau bukan? tidak ada yang tahu. 


Oleh karena itu, kita harus bersikap skeptis jika mendapatkan penawaran atau hadiah yang terdengar sangat tidak masuk akal, maka langsung tolak saja, karena kemungkinan besar itu adalah kejahatan soceng yang sedang berusaha memainkan psikis sang korban. 


3. Tidak Asal Share Data Pribadi


Ini yang terakhir, sekaligus paling penting, yakni keamanan data pribadi. Berkaca dari pengalaman Ibu sebelumnya ketika diteror oleh pelaku soceng, beliau terus-terusan ditekan untuk membocorkan data sensitif. Awalnya, pelaku masih bertanya dengan nada halus dan lemah lembut, khas teller bank pada umumnya.


Namun, ketika Ibu menolak, pelaku mulai menekan psikis dengan menaikkan nada bicaranya seperti mengintimidasi Ibu, disertai ancaman-ancaman seperti pemblokiran akun, dan lain sebagainya. Seperti itu gambaran kegigihan pelaku untuk mendapatkan data pribadi calon korbannya.


Oleh karena itu, jangan sampai kita mudah memberikan data pribadi yang sensitif kepada orang asing, apalagi sampai disebarkan secara sukarela di media sosial, karena akan berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.


Kasus kebocoran data pribadi sendiri masih menjadi isu pelik di Tanah Air. Dilansir dari Surfshark, Indonesia menduduki posisi ke-3 sebagai negara dengan jumlah kasus kebocoran data terbanyak di dunia. Bahkan, tercatat selama kuartal III-2022, ada 12,74 juta akun yang mengalami kebocoran data pribadi. Oleh karena itu, pentingnya peran masyarakat dalam menjaga data mereka masing-masing menjadi sangat urgent untuk meminimalisir terjadinya kejahatan serupa di masa depan.


Ada beberapa data pribadi yang tidak boleh disebarkan kepada orang lain, seperti User ID, Password, PIN, Kode OTP, nomor KTP, nomor kartu kredit, dan juga nama orang tua (biasanya nama ibu kandung), dimana data-data tersebut sangat sensitif dan tentunya berbahaya jika diketahui oleh orang lain.


Dengan tidak membocorkan data pribadi kepada siapapun, artinya kita telah mengantisipasi dari berbagai modus pembobolan rekening, dan juga menjaga agar uang dalam rekening kita aman dari penjahat siber.


Ayo bersama-sama kita lindungi rekening kita dengan mengikuti ketiga cara yang sudah aku tulis di atas, dan aku mengajak teman-teman semua untuk #MemberiMaknaIndonesia dengan cara #BilangAjaGak ketika dihadapkan dengan berbagai modus soceng.


Semoga artikel ini bermanfaat, sebagai upaya preventif untuk kita semua. Oh iya, untuk informasi lainnya terkait edukasi keuangan, hingga edukasi keamanan rekening, kalian bisa mengunjungi laman yang disediakan Bank BRI di situs https://bri.co.id/briedukasi


Have a good day!


sumber:


https://www.inews.id/finance/keuangan/ojk-ungkap-total-kerugian-bank-dan-nasabah-akibat-soceng-tembus-ratusan-miliar

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/08/23/ada-5-ribu-serangan-phising-terjadi-di-ri-pada-kuartal-ii-2022-ini-lembaga-yang-paling-banyak-diincar

>